NemangkawiPeak

PT Wisata Puncak Nemangkawi “From Ancestral Lands, For the Spirit of Adventure.” PT Wisata Puncak Nemangkawi is an adventure tourism company based in Central Papua, Indonesia. We are proud to be the only expedition operator to Carstensz Pyramid (Puncak Nemangkawi) that is fully owned and managed by the indigenous Amungme people—the original stewards of Papua’s highlands.

Articles AND NEWS

Senin, 10 November 2025

Pelinus Beanal dan Elias Beanal, berhasil Mendaki Puncak Nemangkawi, puncak tertinggi di Indonesia  4.884 mdpl

Pelinus Beanal dan Elias Beanal, berhasil Mendaki Puncak Nemangkawi, puncak tertinggi di Indonesia 4.884 mdpl


PT. Wisata Puncak Nemangkawi (PT. WPN), yakni Pelinus Beanal dan Elias Beanal, berhasil menaklukkan Puncak Nemangkawi, puncak tertinggi di Indonesia yang berada pada ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Di puncak megah tersebut, keduanya dengan penuh semangat nasionalisme mengibarkan bendera Merah Putih disertai foto Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia sebagai simbol cinta tanah air dan kebanggaan masyarakat adat Mimika.

Direktur PT. Wisata Puncak Nemangkawi, Vinsen Beanal, menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya atas keberhasilan tersebut.

Tim PT. Wisata Puncak Nemangkawi di Puncak Nemangkawi (Dokumen PT Wisata Puncak Nemangkawi)

“Saya selaku Direktur PT. Wisata Puncak Nemangkawi menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh tim yang dengan semangat, dedikasi, dan perjuangan luar biasa berhasil mencapai Puncak Nemangkawi serta mengibarkan bendera perusahaan di ketinggian 4.884 mdpl.

Pencapaian ini bukan hanya simbol keberhasilan pendakian, tetapi juga bagian penting dari sejarah perusahaan—bukti komitmen kami dalam mengembangkan potensi wisata alam berbasis kearifan lokal dan semangat kebersamaan,” ungkap Vinsen Beanal kepada Salam Papua, Sabtu (1/11/2025).


Keberhasilan ekspedisi ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi para pendaki dan masyarakat adat pemilik hak ulayat yang tergabung dalam pengelolaan PT. WPN. Momen tersebut mencerminkan semangat kemandirian dan kolaborasi masyarakat adat dalam mengelola potensi wisata alam di wilayah mereka sendiri.

Kegiatan ekspedisi mendapat dukungan penuh dari Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Mimika, Dolfin Beanal, yang juga memberikan apresiasi tinggi atas perjuangan tim.

“Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa ketika masyarakat adat diberi ruang untuk mengelola potensi alamnya sendiri, hasilnya dapat luar biasa. Saya berharap kegiatan seperti ini dapat menginspirasi generasi muda Papua untuk mencintai dan menjaga alamnya,” ujar Dolfin Beanal.

Sementara itu, Pelinus Beanal, salah satu pendaki yang menaklukkan puncak tersebut, mengungkapkan rasa bangganya dapat menancapkan Merah Putih di atap tertinggi Indonesia.


“Kami sangat bangga bisa mengibarkan Merah Putih di Puncak Nemangkawi. Ini bukan hanya bentuk cinta tanah air, tetapi juga penghormatan kami kepada masyarakat adat pemilik gunung ini,” tuturnya.

Ke depan, PT. Wisata Puncak Nemangkawi berkomitmen mengembangkan kawasan Puncak Nemangkawi sebagai destinasi wisata alam berkelanjutan yang mengedepankan pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat adat, dan kearifan lokal.

Menutup pernyataannya, Dolfin Beanal, politisi muda dari Partai Gerindra, menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terlaksananya ekspedisi bersejarah ini.

“Kami berterima kasih kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Mimika, Balai Taman Nasional Lorentz, Polres Mimika, Lanud Kapiyau, Basarnas, dan Kantor Imigrasi atas dukungan penuh hingga kegiatan pendakian ini dapat terlaksana dengan baik,” pungkasnya.

Kamis, 25 September 2025

Masyarakat Adat Dilibatkan dalam Wisata Pendakian Gunung Cartensz

Masyarakat Adat Dilibatkan dalam Wisata Pendakian Gunung Cartensz


Yayasan Wisatari Alam Papua (YWAP) menyerahkan sertifikat kepada puluhan masyarakat adat yang tinggal di sekitar pegunungan Jayawijaya (Puncak Cartensz).

Pendiri YWAP, Dolfin Beanal menjelaskan, sertifikat ini menjadi legalisasi bagi masyarakat adat, untuk mendampingi wisatawan yang melakukan pendakian ke Puncak Cartensz di Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

“Sertifikat ini nanti anak-anak pribumi ini mereka bisa dipakai investor untuk dampingi wisatawan ke Cartensz,” kata Dolfin usai penyerahan sertifikat di Hotel Horison Diana, Selasa (23/9/2025).

Menurutnya, wisata Cartensz bisa menghasilkan uang bagi masyarakat di sekitar gunung, sehingga harus dilibatkan.

“Karena ada uangnya, jadi kita rangkul mereka dengan diberikan sertifikat dari Kementerian ini. Mereka ini sudah punya lisensi, jadi perusahaan yang bawa pendaki bisa libatkan mereka,” jelas Dolfin.

Ia berharap pada penyerahan ini dan seterusnya, urusan wisata ke Puncak Cartensz ini juga bisa didukung oleh Pemkab Mimika, khususnya Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora).

Jadi ini tidak hanya dimanfaatkan oleh perusahaan dari luar saja, kalau dinas terkait perhatikan ini bisa jadi menambah pendapatan daerah juga,” katanya.

Masyarakat yang memiliki sertifikat ini berada dibawah naungan YWAP, dan bisa juga membuat CV atau PT untuk kemudian bisa menjalankan usaha wisata ke Puncak Cartensz.

Ia mengungkapkan, selama ini pendakian ke Puncak Cartensz kerap terjadi kecelakaan maupun masalah lainnya karena tidak ada dilibatkan masyarakat adat dalam pendakian.

Gunung ini masyarakat yang punya, jadi mereka harus dilibatkan supaya tidak ada yang dirugikan baik pendaki maupun masyarakat,” ungkapnya.

Ia menambahkan, masyarakat yang menerima sertifikat pendampingan pendakian ini tidak hanya suku Amungme, tetapi juga suku Mony dan suku lainnya.

“Jadi ini kita ambil dari desa desa di sekitar kaki gunung,” pungkasnya.

penulis : Anya Fatma
editor : Aditra
Copy@seputarpapua.com
Mimika Dorong Wisata Nemangkawi, Pemandu Lokal Terima Sertifikat Resmi

Mimika Dorong Wisata Nemangkawi, Pemandu Lokal Terima Sertifikat Resmi


Yayasan Wisatari Alam Papua menggelar Forum Group Discussion (FGD) Wisata Pendakian Puncak Nemangkawi (Cartenz Pyramid) sekaligus menyerahkan sertifikat profesionalisme bagi pemandu gunung lokal.

Kegiatan berlangsung di Hotel Horison Diana, Selasa (23/9/2025), dihadiri perwakilan Kodim, Basarnas, dan sejumlah tamu undangan.

Mewakili Bupati Mimika, Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Frans Kambu, menyebut kegiatan ini sebagai langkah awal menyatukan visi dan misi dalam mengembangkan wisata pendakian Puncak Nemangkawi yang tetap berlandaskan pelestarian lingkungan.

“Selama ini kita hanya jadi penonton di tanah sendiri. Kini saatnya merapatkan barisan, melibatkan masyarakat sekitar sebagai pelaku utama agar generasi penerus kita bisa merasakan manfaatnya,” ujarnya.

Frans menekankan pentingnya membangun komunikasi dengan masyarakat adat, pihak keamanan, tokoh pemuda, dan tokoh masyarakat demi mewujudkan pengelolaan wisata alam yang baik.

Sementara itu, penggagas Yayasan Wisatari Alam Papua, Dolfin Beanal, menegaskan pihaknya bersama masyarakat Puncak Cartenz tidak lagi ingin sekadar menjadi penonton, melainkan turut aktif mengelola dan melestarikan gunung tersebut.

Ia mengapresiasi dukungan Kementerian Pariwisata yang memberikan sertifikat resmi bagi pemandu lokal.

“Dengan sertifikat ini, mereka bisa mendampingi wisatawan sekaligus menjaga kelestarian gunung. Selama ini masih banyak yang main tabrak-tabrak saja,” ungkap Dolfin.

Menurutnya, pengembangan wisata pendakian Nemangkawi dapat menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat, sehingga tidak hanya bergantung pada anggaran pemerintah daerah.

Copy @nemangkawipos.com

Rabu, 06 Agustus 2025

Lepas Status “Penonton”, Komisi II Papua Tengah Dukung Pemuda Asli jadi Tuan di Atas Tanahnya Sendiri

Lepas Status “Penonton”, Komisi II Papua Tengah Dukung Pemuda Asli jadi Tuan di Atas Tanahnya Sendiri


Anggota Komisi II DPRP Provinsi Papua Tengah, Araminus Omaleng, menyuarakan dukungan penuh dan apresiasi tinggi terhadap inisiatif pemberdayaan pemuda asli pemilik dusun di kawasan alam Mimika.

Dukungan ini menyusul pelaksanaan pelatihan dan sertifikasi pemandu gunung bagi anak-anak asli setempat, yang digagas oleh Asosiasi Pendaki Gunung Indonesia (APGI) melalui mitranya, Yayasan Wisatari Alam Papua.

“Saya sangat mendukung dan menghargai APGI serta Yayasan Wisata Alam Papua. Kehadiran dan kerja sama mereka di Mimika untuk memberikan pelatihan serta sertifikasi BNSP bagi pemandu gunung lokal ini adalah langkah luar biasa yang patut dapat perhatian khusus,” ungkap sang Anggota Komisi II.

Dirinya menekankan pentingnya peran Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Mimika dalam mendukung program ini.

Program pelatihan ini dinilai sebagai solusi strategis untuk dua hal krusial. Pertama, meningkatkan keterlibatan langsung masyarakat asli sebagai pendamping wisatawan yang masuk ke daerah Mimika. Kedua, dan yang paling utama, membuka keran ekonomi berkelanjutan bagi warga kampung pemilik dusun.

“Tidak boleh lagi masyarakat pemilik air, sungai, dan gunung ini hanya menjadi penonton, atau sekadar objek selfie para pendatang. Mereka harus terlibat aktif, mendampingi setiap wisatawan, dan menikmati hasil dari kekayaan alamnya sendiri,” ujarnya

Ia juga menyoroti ketimpangan selama ini dimana manfaat ekonomi sering kali hanya dinikmati segelintir perusahaan besar.

Kehadiran pemandu lokal bersertifikat, menurutnya, bukan sekadar soal pekerjaan. Ini adalah bentuk pengakuan dan kebanggaan.

“Ini agar anak-anak asli pribumi, pemilik sah air, sungai, dan gunung, tidak hanya menonton dari jauh. Mereka harus terlibat langsung, mendampingi setiap orang yang ingin melihat keindahan Alam Papua. Dengan begitu, wisatawan tidak hanya melihat alamnya, tetapi juga bertemu dan berinteraksi dengan sang pemilik asli yang hidup berdampingan dengan alamnya. Itu sangat bagus,”ujarnya penuh semangat.

Komisi II Provinsi Papua Tengah, melalui pernyataan resmi ini, berkomitmen untuk mendukung penuh dan mendorong keberlanjutan program Yayasan Wisata Alam Papua, terutama yang menyasar pemberdayaan pemuda asli di kawasan Gunung Nemangkawi dan sekitarnya.

Dukungan ini diharapkan menjadi katalis agar pemilik sah tanah Papua Tengah benar-benar menjadi tuan di negerinya sendiri, merajut kesejahteraan dari keindahan alam yang mereka jaga turun-temurun. (Redaksi)

Materi Copy@penapapua.com  Artikel Tgl 26 Juli 2025

Sabtu, 02 Agustus 2025

YWAP Hadir Lestarikan Seni Dan Tradisi Suku Amungme Di Mimika

YWAP Hadir Lestarikan Seni Dan Tradisi Suku Amungme Di Mimika


Yayasan Wisatari Alam Papua (YWAP) resmi berdiri di Mimika sebagai wadah pelestarian seni, budaya, dan tradisi Suku Amungme. YWAP didirikan oleh Pendiri Honai Adat Pengusaha Amungme Kamoro (HAPAK), Dolfin Beanal, yang menggandeng Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) dalam upaya pengembangan wisata berbasis kearifan lokal.

Peresmian YWAP ditandai dengan kegiatan sosialisasi dan pelatihan sertifikasi pemandu wisata gunung, khususnya untuk pengembangan wisata di kawasan Puncak Nemangkawi. Kegiatan tersebut dilaksanakan di salah satu hotel di Timika, Rabu (23/7/2025).

Dalam sambutan Bupati Mimika, Johannes Rettob, yang dibacakan Staf Ahli Bupati Bidang Hukum, Politik, dan Pemerintahan, Yakobus Kareth, disebutkan bahwa Mimika memiliki keindahan alam luar biasa dari hutan hujan tropis, sungai, hingga kawasan pegunungan yang menantang, termasuk Puncak Nemangkawi.

“Potensi ini harus dikelola secara bijak, tidak hanya untuk kepentingan ekonomi, tetapi juga demi pelestarian alam dan budaya. Diharapkan kegiatan ini meningkatkan kapasitas masyarakat dalam kepariwisataan berbasis budaya dan alam, mendorong sertifikasi, serta memberikan nilai tambah ekonomi bagi warga lokal,” ungkap Yakobus.

Pendiri HAPAK, Dolfin Beanal, menjelaskan bahwa YWAP dibentuk sebagai wadah pelestarian budaya Suku Amungme melalui program edukatif, pelatihan, dan berbagai kegiatan berbasis nilai-nilai lokal.

“Yayasan ini menjadi penggerak utama dalam menjaga identitas budaya dan memastikan generasi muda tetap terhubung dengan akar tradisinya,” katanya.

Dolfin juga memperkenalkan PT Wisata Puncak Nemangkawi (PT WPN) sebagai entitas operasional yang akan menjalankan kegiatan pariwisata mulai dari pelayanan wisatawan, pengelolaan destinasi, hingga pengembangan ekowisata berkelanjutan.

“YWAP akan bertindak sebagai pelestari nilai budaya, sementara PT WPN akan menjadi pelaksana kegiatan pariwisata berbasis masyarakat adat, khususnya generasi muda Amungme yang selama ini menghadapi tantangan dalam akses pekerjaan dan pengembangan kapasitas,” jelasnya.

Dukungan juga datang dari Anggota DPR Provinsi Papua Tengah, Araminus Omaleng. Ia menilai pembentukan pemandu wisata lokal sebagai langkah strategis memperkuat sektor pariwisata berbasis masyarakat di Mimika.

“Saya mendukung penuh, termasuk mendorong lahirnya regulasi khusus bagi profesi pemandu lokal, agar masyarakat benar-benar menjadi tuan di negerinya sendiri,” tegas Araminus.

Penulis: Evita - Editor: Sianturi

sumber Artikel Copy@salampapua.com

Keistimewaan Pegunungan Jayawijaya Papua, Salju Abadi di Puncak Carstensz

Keistimewaan Pegunungan Jayawijaya Papua, Salju Abadi di Puncak Carstensz


Puncak tertinggi di Indonesia di Pegunungan Jayawijaya Papua. Puncak Castensz selalu dihiasai salju abadi.

Pegunungan Jayawijaya yang membentang luas di Papua merupakan puncak tertinggi Indonesia. Gunung dengan ketinggian sekitar 4.884 meter di atas permukaan laut yang dikenal juga dengan Gunung Carstensz Pyramid berada di Provinsi Papua hingga Papua Nugini.

Letaknya yang sangat tinggi membuat gunung ini menyajikan panorama alam yang sangat spektakuler. Akibatnya, banyak pula keistimewaan yang diberikan Pegunungan Jayawijaya. Berikut keistimewaan yang disajikan puncak tertinggi Indonesia itu.

Gunung tertinggi di Indonesia dan benua Australia

Mengutip p2k.unkris.ac.id, dengan ketinggian puncaknya yang mencapai 4.884 meter dari permukaan laut, gunung ini menjadi gunung tertinggi di Indonesia dan gunung tertinggi di benua Australia. Selain itu, Gunung Jaya Wijaya juga menempati urutan ke-2 setelah gunung Hkakabo Razi (5.881 meter dari permukaan laut) di Myanmar dalam jajaran gunung tertinggi di Asia Tenggara.

Asal mula nama Carstensz

Nama Carstensz diambil dari cerita sejarah pada 1623 ketika pelaut Belanda, Jan Carstensz melihat puncak tersebut melalui teropong dalam pelayarannya melintasi pantai selatan Laut Arafura. Kala itu, Jan Carstensz disebut pembohong bahkan dinilai gila ketika mengaku menemukan Gunung Carstensz Pyramid yang dilapisi salju di Indonesia. Kemudian, setelah 300 tahun berlalu, Jan Carstensz berhasil membuktikan omongannya. 

Baca: Jalur Pendakian Puncak Carstenz Papua dari Sugapa Intan Jaya Tutup Sementara

Memiliki salju abadi yang terkikis selama berjalannya waktu

Indonesia yang merupakan negara beriklim tropis karena dilintasi garis khatulistiwa membuatnya mustahil untuk turun salju. Namun, salju masih dapat ditemukan di puncak Jaya Wijaya. Dengan begitu, Gunung Jaya Wijaya menjadi satu-satunya tempat bersalju di negara tropis. Kendati demikian, salju di gunung ini seiring berjalannya waktu akan hilang karena adanya perubahan iklim yang ekstrem, seperti dilansir Antaranews.

Gletser di puncak gunung

Selain salju, Gunung Jaya Wijaya juga dipenuhi dengan gletser, yaitu lapisan es yang karena tumpukan salju selama puluhan tahun. Kondisi tersebut menjadi keuntungan bagi para pendaki lantaran dapat dijadikan sumber persediaan air tawar untuk kawasan di sekelilingnya.

Pendakian gunung termahal di dunia

Pendakian puncak Jaya Wijaya disebut sebagai pendakian dengan biaya yang cukup mahal. Tidak tanggung-tanggung, pendakian gunung ini disebut pula lebih mahal dari puncak tertinggi di dunia, Mount Everest. Sebab, kelompok pendakian yang berisi lima orang saja sudah harus membayar sekitar Rp 55 juta setiap orang.

Masuk dalam seven summits

Baik pendaki lokal maupun mancanegara pasti memiliki ketertarikan untuk mencapai Puncak Jaya Wijaya. Pasalnya, gunung ini masuk dalam seven summits, yaitu sebutan bagi gunung-gunung tertinggi dari tujuh benua di dunia, seperti dikutip dari buku Seven Summits Trik & Tips Pendakian.

Namun, sampai sekarang  penetapan Gunung Jaya Wijaya sebagai seven summit ke-7 di dunia masih menjadi perdebatan. Sebab, awalnya, pencetusan World’s Seven Summit yang dicatat oleh Dick Bass mengacu pada gunung Kosciuszko sebagai anggota urutan ke-7.

Sementara itu, pencetusan oleh Reinhold mengungkapkan bahwa seven summit dunia di urutan ke-7 adalah Puncak Carstensz yang terletak di pegunungan Papua. Ia menyatakan bahwa pendakian Gunung Jaya Wijaya memiliki jalur lebih terjal dan ekstrem daripada pendakian gunung Kosciusko. Akhirnya, pendapat Reinhold ini mendapat banyak dukungan dari para pendaki di pelosok bumi.

RACHEL FARAHDIBA R

Sumber dan Materi Artikel Copy@https://www.tempo.co/

NemangkawiGallery

"The best view comes after the hardest climb."

"The best view comes after the hardest climb."

"The best view comes after the hardest climb."

"The best view comes after the hardest climb."